Indra Gunawan

word of my mind, word of my heart.


Anak 'Jalanan' :)

Monday, February 21, 2011 at 10:54pm
My Today's Real Story ^^

*****

Aku berjalan keluar dari dalam halte. Langit terlihat sedikit mendung, mungkin itu yang membuat sengatan sinar matahari Jakarta tidak begitu terasa. Hawa masih sejuk, karena saat ini memang masih pagi. Aku melihat handphone-ku, hanya ingin memastikan 'sekarang jam berapa'.

Beberapa langkah kaki kemudian, aku melihat para tukang ojek menawarkan jasanya pada orang-orang yang keluar dari dalam halte bersamaku. Dan entah kenapa, aku sendiri tidak mereka tawari.  Aku senang sebenarnya, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan suaraku untuk menolaknya. Karena sekarang, aku memang sedang enggan untuk berbicara. Apalagi, aku memang tidak membutuhkan jasa mereka saat ini. Aku kan mau naik kereta api, bukan naik ojek. Pikirku..

Aku menelusuri teras Stasiun Gambir, bergegas menuju loket penjualan tiket. Tidak memerlukan waktu yg cukup lama untuk sampai di sana.

Ada dua bagian loket, satu sisi di bagian kanan, dan sisi lain di bagian kiri. Masing-masing memliki empat loket penjualan. Aku ikut mengantri pada loket di sebelah kanan. Dari empat, hanya dua loket yang melayani transaksi penjualan pagi itu. Kondisi loket tidak begitu ramai, hanya terlihat dua orang yang sedang berbicara dengan petugas penjual tiket.

Lima menit kemudian, tibalah giliranku. ”Ke Bandung jam berapa mbak?” tanyaku. ”Bandung sebelah sana mas, di sini untuk ke Cirebon”. Petugas itu menjawab sambil memberikan arah yang benar dimana aku seharusnya berada. ”Oh, makasih mbak”. Aku bergegas ke loket yang ditunjukkan petugas itu. Yang ternyata ada di bagian sisi yang lain.

Bandung 09:15, aku melihat papan jadwal pemberangkatan kereta api. Kurogoh saku celanaku, kulihat waktu di hapeku, dan angka yg tertera di sana adalah 09:11AMMasih ada waktu, masih ada 4 menit. Apalagi, tadi malam aku sudah memajukan waktu di hape-ku beberapa menit dari waktu yang tertera di komputer Niko.

”Pak, langsung naik ke atas saja ya. Langsung ke jalur…” Aku tidak bisa mendengarkan kelanjutan pembicaraan mereka. “OK mbak”, laki-laki yang mengantri di depanku menjawab dan langsung bergegas menuju pintu masuk.

“Bandung masih sempat?” aku bertanya pada petugas penjual tiket sambil mengulurkan uang. ”Masih, namanya?” wanita itu menjawab. ”Indra”, jawabku. ”Bisnis ya? Satu? Dua?”. ”Excecutive mbak, sendiri”. ”Langsung naik ya!” Dia menjawab sambil memberikan kembalian uang beserta tiket.

Aku sadar aku tidak punya waktu lama, aku berlari, menunjukkan tiket sebentar pada petugas penjaga pintu. Mencari escalator terdekat dengan sangat tergesa-gesa.

Aku memperhatikan tiketku.
No Kereta : 1, Seat Number : 10C
Aku mencari nomor jalur dimana kereta-ku berada, tapi tidak kutemukan di kertas itu.

Sampai di lantai dua, aku bingung mesti naik tangga di sebelah mana. Kereta ada di lantai tiga. Tapi aku tidak tahu tangga yang mana yang harus aku pilih. Sekilas aku melihat tangga di sebelah kanan, tanpa berfikir panjang aku berlari kesana, menaiki tangga itu dengan tergesa-gesa.

“Selamat pagi, kami beritahukan kepada seluruh penumpang. Kereta api Argo Parahyangan dengan tujuan Bandung diberangkatkan sekarang. Untuk semua penumpang, nikmati perjalanan anda dan semoga selamat sampai tujuan.” Kalimat itu selesai, tepat bersamaan dengan ketika aku sampai di lantai tiga. Di tempat aku berdiri, aku tidak melihat ada kereta di jalur itu.

Aku mengalihkan pandanganku. Aku melihat kereta berwarna putih ada di jalur seberang, aku yakin itulah kereta yang seharusnya aku naiki.

Aku megap-megap, panas, berpeluh, sambil memegang satu lembar tiket di tanganku. Seseorang menghampiriku. ”Kemana mas?”. ”Ke Bandung pak”. ”Wah, kereta ke Bandung yang itu” ia menjawab dengan menunjuk kereta yang aku lihat tadi. Aku hendak berbalik untuk turun melalui tangga yang aku naiki tadi, tapi kemudian lelaki itu berseru. ”Itu lewat sana aja, nggak sempat kalo turun lagi!” Dia menunjuk pintu kecil yang berada pada bagian belakang kereta.

Pintu itu terbuka, mungkin satu-satunya pintu yang terbuka pada sisi bagian itu. Sisi bagian yang menghadap rel. Jarak antar aku dengan pintu itu sekitar lima belas meter, tapi dipisahkan oleh satu buah rel. Untuk menuju kesana berarti aku harus melompat ke dalam jalur rel kereta api yang dalamnya sekitar satu meter dari tempat aku berdiri.

Tinggi kaki pintu kereta yang aku liat tadi, bila aku ukur dari permukaan rel yang diinjak oleh roda kereta tersebut, juga aku perkirakan  sekitar satu meter lebih sedikit. Aku menyimpulkan, itulah yang membuat para penumpang yang berada pada jalur yang benar, tidak akan kesulitan untuk masuk kedalam gerbong. Karena lantai dimana mereka berdiri sama tingginya dengan pintu gerbong.

Aku kemudian melakukan sedikit kalkulasi di kepalaku, memikirkan sedikit pertimbangan untuk memutuskan pilihan mana yang paling masuk akal dan sebaiknya aku ambil.

Tiga detik kemudian, ketika aku belum berhenti berfikir. Kakiku sudah melompat ke dalam jalur rel kereta api. Sebenarnya aku juga berfikir lumayan berbahaya ketika aku melakukan tindakan itu. Bagaimana bila tiba-tiba ada kereta api lain yang kemudian datang dan melaju pada jalur itu?

Tanpa aku sadari, aku merasa, sebenarnya aku telah mempertimbangkan juga hal tersebut. Ketika otakku bekerja, sebenarnya mataku juga bekerja pada saat yang bersamaan. Melihat arah kanan-kiri, melihat kalau-kalau ada kereta yang datang dalam waktu dekat. Tanpa aku sadari juga, diriku juga sudah memastikan bahwa tidakanku saat itu aman, untuk waktu yang sementara, setidaknya menurutku. Aku tidak tahu bagian mana dari tubuhku yang memikirkan itu, bukankah otakku sedang aku gunakan untuk memikirkan hal lain? Ah.. Yang penting aku sudah mendapatkan hasilnya.

Aku sedikit terseok-seok berlari di atas rel besi yang beralaskan kerikil. Ditambah dengan tas ransel di punggunggku yang aku perkirakan seberat enam sampai tujuh kilogram.

Aku sudah berada di depan pintu, bel keberangkatan telah dibunyikan. Itu berarti aku tidak memiliki waktu lebih dari lima detik lagi. Aku melihat pintu itu, ada tiga orang sedang duduk di depannya. Mungkin mereka adalah petugas kebersihan kereta api, atau petugas yang lain aku tidak tahu. Yang jelas pakaian hitam-orange yang mereka kenakan tidak terlalu rapi. Aku berfikir, untuk orang yang duduk di lantai kereta api hanya untuk bersatai seperti mereka, kelihatannya itu bukanlah sikap yang biasa dilakukan oleh pegawai kereta api yang berpangkat tinggi.

Orang yang berada paling dekat dengan pintu melihatku, mungkin heran dengan apa yang aku lakukan. Aku menatap matanya, aku ulurkan tanganku.

Orang itu mengerti maksudku, ia meraih tanganku, menarikku ke atas. Aku memaksakan kakiku naik memancal. Lelaki itu menarikku dengan lumayan bertenaga, sehingga aku tidak mengalami kesulitan untuk sampai di atas.

Lelaki itu masih bingung, begitu juga dengan kedua temannya. Aku menunjukkan tiketku kepadanya. ”Ini dimana ya pak?” Ia melihatnya sebentar kemudian menjawab ”Ooh, gerbong satu ada di depan. Jalan aja kearah sana, maju terus sampe ke paling depan”. ”Ke arah sana pak?” aku menoleh ke arah yang ditunjukkannya.

”Ya betul”, aku mendengarkan jawabannya tapi aku tidak memperhatikannya. Perhatianku beralih pada apa yang ada di depanku. Ternyata aku sedang berada di dapur. Aku melihat dua atau mungkin tiga orang koki sedang memasak, sepertinya sedang membuat nasi goreng, aku bisa menciumnya. Aku juga melihat asap mengepul dari situ. Di depannya, satu orang pria tidak berseragam dengan tubuh agak gemuk berdiri sambil melihat tiga koki tersebut melakukan pekerjaannya. Dia tidak memperhatikanku. Atau mungkin dia sudah sempat memperhatikanku tadi, tapi mungkin dia menganggap kedatanganku disana bukanlah hal yang menarik untuk diperhatikan, atau mungkin ada hal penting lain yang sedang dilakukannya, aku tidak tahu.

Aku kembali memperhatikan orang yang membantuku tadi. ”Ooh, terimaksih banyak ya pak” aku mengangguk dua kali, menurunkan kepalaku. Aku benar-benar berterimakasih kepadanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi bila ia tidak membantuku tadi. Dengan beban tas seberat itu, berarti aku harus melepaskankan tasku terlebih dahulu, melepaskan beberapa kaitan yang mengikat. Melemparkannya ke dalam. Dan dengan beban yang sudah berkurang itu, aku juga masih tidak tahu apakah aku bisa memanjat tinggi lantai kereta itu sendirian, setinggi itu, dan tepat waktu.

Aku menghadap ke depan, kereta sudah berjalan tanpa aku sadari sejak kapan. Mungkin ketika aku memperhatikan bapak-bapak gemuk yang ada di depanku tadi. Aku menoleh lagi ke belakang, mengucapkan terimakasih sekali lagi. Dan aku mulai melangkahkan kakiku ke depan.

”Permisi pak”, aku kembali menunguk sambil berkata kepada bapak-bapak gemuk tadi. Ia memang agak menghalangi jalan dengan tubuh besarnya. Ia memberikan ruang kepadaku, bergeser sedikit, tidak terlalu lebar tapi cukup bagiku untuk melintas.

Aku telah berada pada ujung gerbong dapur. Aku berada di depan pintu, ”BUKA, TEKAN TOMBOL. TUTUP OTOMATIS”. Aku mencari tombol yang dimaksud, aku menemukannya. Aku memencetnya, dan pintu terbuka.

Aku masuk kedalam gerbong baru, sepi sekali, seperti tidak ada penumpang. Di ujung depan hanya ada layar kecil bertuliskan “04” yang aku artikan sebagai gerbong nomor empat. Aku seharusnya berada pada gerbong satu, berarti masih ada tiga gerbong lagi yang harus aku lewati.

Aku melihat sesuatu bergerak di sebelah kiri, dibagian kiri dari lorong gerbong tersebut. Oh ternyata ada seseorang disitu. Ia tadinya diam, sedang duduk, pantas aku tak menyadarinya. Ia bereaksi karena kedatanganku, aku melihatnya. Ia mengenakan seragam yang pasti gampang aku kenali. Dia seorang polisi, aku baru tahu kalau di dalam sebuah kereta ada seorang polisi yang menjaga. Aku baru tahu saat itu.

Instingku berjalan sendiri, aku tidak berfikir ketika tanganku mengulurkan tiket yang masih aku pegang sedari tadi ke polisi itu. Dia melihatnya sesaat, kemudian mengangkat tangannya mengarah menuju kedepan. ”Kesana”. Aku memperhatikan tangannya. Sewaktu menunjukkan arah, telapak tangannya terbuka ke atas. Tidak dengan menggenggam keempat jarinya dan menjulurkan telunjuknya. Oh sopan sekali, kataku dalam hati.

Aku kembali mengucapkan terimakasih. Aku berjalan menuju pintu di ujung yang ditunjukkan polisi itu, mencari tombol pintu yg berluliskan “TOMBOL OTOMATIS”. Memencetnya. Pintu kembali berbuka, aku keluar dari gerbong keempat, berada di depan pintu gerbong ketiga. Aku kembali melakukan hal yang sama dan pintu kembali terbuka.

Aku masuk kedalam gerbong ketiga, suasana juga sangat sepi. Kali ini benar-benar tidak ada manusia yang berada di sana. Aku memastikannya. Aku kembali bergesa menuju pintu selanjutnya. Aku kembali mencari tombol otomatis itu, tapi kali ini aku tidak menemukannya. Sekitar empat detik aku terdiam, mencari tapi aku masih tak melihatnya. Tiba-tiba saja, polisi yang tadi, secara tidak aku sadari telah berada di belakangku. Ternyata ia mengikutiku, untuk mengantarkanku, atau mungkin takut aku berbuat macam-macam --karena kedatanganku dari arah yang tidak seharusnya--, aku juga tidak tahu. Ia kemudian membantuku memencet tombol otomatis yang mudah sekali ia ditemukan. Ya, mungkin tombol itu sepertinya sudah di situ sejak tadi. Tapi aku masih merasa, aku yakin tadi tidak ada tombol disitu, aku yakin. Ah mungkin karena aku sedang keadaan panik, tidak mungkin tombol itu berpindah tempat. Sekali lagi, aku mengucapkan terimakasih.

Aku masuk ke dalam gerbong nomor dua. Kali ini aku melihat banyak manusia di sini. Ruangan itu tidak penuh, tidak juga banyak, tapi lumayan bila dibandingkan dengan dua ruangan yang aku lewati sebelumnya.

Aku masih berjalan menuju pintu selanjutnya, polisi itu masih mengantarkanku.

Aku akhirnya sampai ke dalam gerbong yang aku tuju, menurut perhitunganku. Aku memandang ke ujung, melihat nomor gerbong pada layar kecil untuk memastikan perhitungan yang dilakukan oleh benakku. Ya, aku benar. Aku berada pada gerbong nomor satu.

Aku kembali melihat tiketku, mencari nomor tempat duduk yang tertera di sana. ”10C”, itu nomor yang aku dapatkan. Aku memandang ke atas jendela dimana biasanya nomor tempat duduk terpasang. Aku langsung melihat ke arah kanan, karena seingatku, nomor C berada bada barisan di sebelah kanan. Dugaanku benar, aku tinggal mencari tempat dudukku. Aku berjalan pelan-pelan, sambil memperhatikan setiap nomor yang berada dia atas jendela.

Aku menemukannya "10C-D". Aku menoleh ke belakang, kearah polisi yang mengikutiku. ”Benar disini pak?”. ”Ya”, jawabnya singkat. ”Oh, terimakasih banyak pak”.

Aku masuk ke dalam kursi tersebut. Kedua tempat duduk didepanku kosong, jadi aku memilih duduk di kursi D, di samping jendela. Tempat favoritku. Aku kembali menoleh kebelakang, melihat polisi yang menolongku, dan ternyata dia sudah berjalan kembali ke belakang.

Aku meletakkan ranselku di lantai, mengatur nafasku, dan mengatur dudukku agar memperoleh posisi yang nyaman. Aku menenangkan pikiranku.

Setelah semuanya tenang, aku mengucapkan Alhamdulillah dalam hati.
Aku kembali mengulangi peristiwa yang aku alami hari ini mulai pagi hari tadi hingga saat ini, di benakku.
Ketika aku masih di rumah Niko--aku menginap dirumahnya tadi malam--, mengingat ketika aku bercakap-cakap dengan ibunya, tantenya, berfoto bersamanya sebelum keberangkatannya ke Maluku. Sampai aku diantarkan olehnya ke ATM, kemudian ke halte busway “Gelanggang Remaja”.
Aku juga mengulangi persitiwa dimana aku bertanya berkali-kali kepada petugas busway. Aku bertanya, bagaimana caranya aku agar aku bisa sampai ke Stasiun Gambir. Hingga setelah tiga kali berganti bus, aku sampai di Halte Busway Gambir 1.
Mengingat kembali kejadian di loket, di tangga, di rel, di tolong naik ke atas kereta, di dapur, ketemu polisi, berjalan melewati gerbong-gerbong, sampai aku tiba di sini.

Sekali lg aku mengucapkan syukur, banyak sekali orang yang membantuku hari ini. Aku hanya bisa berdo’a, semoga mereka semua mendapatkan balasan yang baik, jauh belih baik dari apa yang mereka perbuat terhadapku hari ini.  Aku benar-benar sangat berterimakasih pada mereka. Aku benar-benar tidak bisa mengungkapkannya. Tuhan begitu baik kepadaku. Mengirim orang-orang baik untuk membantuku. :)

Aku selesai merenungi kejadian-ku. Aku merogoh laci tasku, mengambil iPod kesayanganku, memasang headset di telingaku. Menekan tombol ’play’, dan ter-alunlan lagu ini :

I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night

I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end
oh, oh, oh, oh, oh

#Way Back Into Love, Sabrina – I Love Accoustic
Dan lagu-lagu berikutnya mengalir menemaniku memandang hamparan rumah-rumah penduduk, sawah, gunung, dan pemandangan mempesona lainnya dari jendela kaca-ku..

Labels: , ,

Resonansi

"…Dan fakta paling misterius dan mengejutkan ilmuwan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”. Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi.."
#Unknown
----

Aku berdiri di bawah bangunan petak kecil tak berdinding. Hanya ingin sekedar berteduh dari hujaman air hujan yang sepertinya sedang melampiaskan perasaannya karena beberapa hari ini tertahankan, terbendung oleh teriknya matahari.

Dingin! Hawa itu seharusnya terasa merasuk ke dalam aliran darah melalui celah pori-pori tubuhku dan membekukan. Tapi itu tidak terjadi. Jantung hatiku berpendar, hawa panasnya cukup mengalahkan segala yang seharusnya aku rasakan. Pendaran yang ketika aku salah memperhitungkannya akan menyebar tak terkendali turun melilit perut yang kemudian memaksa asam-asam dalam lambungku mendidih, bergejolak seolah bernyawa dan membawa apapun yang ada didekatnya naik menuju kerongkongan dan memaksaku memuntahkannya. Ah! Itu hanya pernah terjadi satu kali, dulu, dan aku tak pernah mau lagi membiarkan hal tersebut terulang kembali.

Pendarannya tak pernah padam, seperti ada sebuah energi tak ternilai yang berasal dari sebuah tempat dari luar tubuhku yang mungkin telah melintasi ratusan kilometer untuk mencapai ruangan empat bilik di balik tulang rusuk dadaku ini.

Kekuatan yang sangat besar namun indah, yang hari ini, hari kemarin, dan bahkan hari esok, akan selalu menghangatkanku.

----

 
"I don't have an umbrella, so maybe I can't keep you dry but wet under the rain. Anyway, I can teach you how to dance with it. Yeah, dance in the rain". :)
#Indra Gunawan

*Bandung, kutulis cerita kecil ini di meja putih di depan lab fisika nuklir ITB, 10 February 2012.
**Untuk ayah, ibu, adik, dan sahabatku. :)

Labels: , , , , ,

Circle Rainbow Night

From my note in Facebook,  
Tuesday, February 21, 2012 at 11:56am

Thrilled by stars, stunned by moon,
A circle rainbow night ringed them.

The air, exhilarating.
Night wild, elated.

I lay in my yard,
Facing a gorgeous universe, counting the stars.

I drew my mind,

I imagined,
If you are the moon and I am the stars,
How we are the happiest creatures in this world,
Because we could bring the happiness, bring the smile,
Inspiring every people that set eyes on us.    

Maybe moon will always be a moon,
And stars will always be stars,
They never be same shape even until the world is over,
But they always together and keep each other.

Let's bring happiness, lets bring smiles,
Don't let cloudy fools stand in the way,
Don't let me fall, I wont let you fall,
Together we'll fight and defend.
For our friendship :)
Keep fight!

*Literally happen in my yard ahead my home. I lay under the stars under the moon, some month ago.

Labels: , ,

Sabtu, 7 Juli 2012

05:45

Kring, kring.. kring, kringg.. 
Iphone ku berbunyi.

"Moshi-moshi" kataku.. "Badaiii, cok ko tengok hujan diluar. Angin nya kencang banget!!" kata suara penghuni Wakunami Shukusha D-10.

"Hah, ujan ya? Ya udah, ntar gw liat dulu hujan nya gmn. Ntar gw kabarin lagi!", dengan suara bangun tidur.
"Ok!", jawab Mei.

Handphone kumatikan, aku kembali tidur. Sayup-sayup kulihat ada hujan diluar, kelihatan dari jendela kamarku. Ada angin yang menyibakkan tirai jendela, "dingin", dalam benakku. Aku membetulkan posisi selimut futon. Aku kembali tidur.

--

06:30

Tidurku tidak tenang. Aku bangun, beringsut ke jendela kamar. Hujan, deras, anginnya juga kencang. Padi yang di tanam di sawah dibelakang kamarku tampak tertunduk tertiup angin. Kuraih den-den mushi putihku.

"Oiii, iya hujan, jadi gimana ini? Coba cek cuaca di Noto gmn?".
"Hujan jugaa, ini anginnya kenceng banget. Badai ini, 24 km/h".
"Ya udah lah, lanjut tidur aja kalo gitu yaa.."
"Iya, aku juga malas berangkat hujan-hujan gini"
"Klik", den-den mushi kumatikan. Kembali tidur.

--

11.00

"Ohayoo.."
"Ohayoo", jawab Robbi.
"Jadi gimana ini? Masa ga berangkat?", tanyaku.
"Mau berangkat? Jadwal bis jam berapa?", Robbi balik tanya.
....
*cut!! ceritanya kepanjangan, intinya kami jadi berangkat*

"Meii, jadi berangkat. Kita ke Eki jam 12 OK?!!", Robbi menelpon Mei.
--

12.00

"Ting-tong!!" suara bel apato berbunyi. Mei datang, "Ayoo, berangkatt"
"Bentar, mandi dulu", jawabku.
--

Jam satu siang di Kanazawa Eki.
Kami akhirnya berangkat bertiga, Aku, Mei dan Robbi. Well, sebenarnya kami tidak benar-benar tahu tujuan kami. Kami belum tahu bagaimana caranya ke Ushitsu, tempat digelarnya Abarei Matsuri Festival. Tapi ya sudah, pokoknya jalan aja.

Ketika lihat harga JR Exspress. Ternyata mahal, hampir 4000 yen sekali jalan sampai Anamizu, padahal tujuan kami ke Ushitsu. Berarti masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk sampai tujuan selain biaya kereta itu tadi. Uang dalam dompetku yang hanya sepuluh ribu (pinjaman dari Robbi) dan beberapa ribu (uang iuran untuk acara Tahrib Ramadhan) sepertinya sangat tidak sesuai dengan harga tersebut. Kami kemudian mencoba mencari transportasi lain.

Dengan modal browsing-browsing via handphone dan map hasil print yang dibawa Mei. Kami kemudian tanya-tanya ke penjaga penjual tiket ICa di Kanazawa Eki. Sepertinya memang kami terlalu banyak bertanya, karena kemudian sang petugas mengeluarkan kata-kata bahasa Inggris. "No, you need a ticket, but you can't buy here. Overthere!!" dia menunjuk ke arah seberang dengan nada yang agak tinggi. "Oooo. Haikk, arigato gozaimashita!!" kata kami bertiga sambil menjauh cekikikan. Dari tadi kami terbata-bata mencoba bertanya menggunakan bahasa Jepang, tapi ternyata orang yang kami tanya bisa berbahasa Inggris. Hahahhahaha..

Singkat kata, ternyata ada tiket penjualan bus di sebelah kanan Kanazawa Eki, di sebelah Forus Mall. Disana dijual semua tiket bus Hokusetsu Express Bus dan beberapa bus lain yang jalurnya menuju atau ke dan melewati Kanazawa.

Karena bus menuju Ushitsu hanya berangkat dua kali, yaitu jam delapan pagi dan jam empat sore, sedangkan saat itu jam satu siang, maka kami memilih untuk mencoba rute lain. Rute yang kami pilih saat itu adalah rute Ohtani Line, dan menurut rencana, kami akan turun di Yanagida, kemudian berharap ada bus lokal, atau kalau sampai mentok terpaksa mencoba minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Karena tujuan kami bukan halte akhir, kami diberitahu bahwa kami tidak perlu membeli tiket penuh. Kami cukup langsung naik, dan mengambil tiket yang biasanya disediakan di bus-bus standar Jepang (yang biasanya ada di dekat pintu masuk). Dengan begitu biaya yang harus kami bayar juga sesuai dengan jarak yang kami tuju, sesuai halte yang kami pilih untuk turun. Kami berangkat dengan bus pukul 14.20 dari Kanazawa Eki.

Perjalanan menggunakan bus tenyata sangat menyenangkan. Jalur yang kami lewati adalah jalur tol yang berada tepat di tepi laut. Sepanjang setengah perjalanan pertama kami disuguhi oleh pemandangan laut yang sangat indah. Selesai dengan laut, jalur bus berganti dengan hutan dan terowongan. Kemudian, pemandangan berganti dengan sawah-sawah dan rumah khas Jepang yang banyak kami jumpai pada lembah-lembah. Terpencil, namun indah.

Sampai di Yanagida, kami sedikit kehilangan arah. karena perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sambil berfikir. Kami mampir ke warung ramen yang kami jumpai. Masih dengan bahasa Jepang yang terbata-bata, kami meminta pelayan tersebut memberikan menu makanan tanpa babi. Dengan segala perjuangan, akhirnya mereka mengerti. Alhamdulillah. :)

Selesai makan ramen, kami mencari informasi ke penduduk daerah setempat bagaimana caranya kami bisa menuju Ushitsu. Kami mendapatkannya. Dengan waktu saat itu, kami hanya memiliki dua bus tersisa yang bisa kami naiki. Jika lewat, kami harus menunggu besok pagi lagi. Bus datang, dan selamatlah kami dari Yanagida.

Di Ushitsu, kami membersihkan diri sebentar di toilet umum disebelah Coop (drugs store) di depan Eki, sebelum mengeksplore kota tersebut. Tujuan pertama kami adalah mencari Hotel untuk tidur.

Setelah berkeliling-keliling kota, bertanya pada polisi setempat, kami tidak berhasil mendapatkan ruang untuk menginap untuk malam itu. Dalam kebingungan akan tidur dimana, kami mencoba mencari turis asing dan berharap dari mereka kami bisa memperoleh informasi penginapan.

Beruntung kami bertemu dengan keluarga missionaris dari Kanada, Don & Laurrine yang sedang membawa anak-anak mereka, Michael dan Scott ke ke festival itu. Kami dibantu untuk mendapatkan penginapan. Karena semua hotel penuh, mereka kemudian menawarkan untuk tinggal di kabin yang mereka miliki. Wow, tentu kami terima dengan senang hati tawaran tersebut, dan langsung kami cari lokasinya.


Malam hari, Abarei Matsuri Festival dimulai. Aku tidak begitu mengerti dengan arti festival tersebut dan asal muasalnya, tapi yang jelas, yang mereka lakukan adalah mengangkat beberapa gerobak raksasa yang disebut "kiriko" secara bersama-sama yang di atasnya diberikan tempat duduk untuk beberapa anak-anak yang kemudian diarak berkeliling kota menuju Kuil (atau disini disebut dengan Jinja). Beberapa anak tersebut memainkan alat musik tradisional. Orang-orang yang mengangkat kiriko rata-rata sudah mabuk. Gerobak raksasa itu tampaknya sangat berat, karena beberapa orang yang aku lihat berpartisipasi dalam acara itu, memar-memar pada bahunya. Padahal mereka sudah memakai alas bantal yang sangat tebal.

Penduduk lokal di Ushitsu sangat ramah, beberapa kali kami di ajak ngobrol walaupun mereka tahu kami kurang cakap berbahasa Jepang. Kami sempat pula di beri beberapa kaleng bir dan pocari sweat. Dari percakapan kami dengan mereka, ternyata kabarnya kadang ada pelaut Indonesia yang berada di daerah tersebut. Entah menjadi kru dari kapal mereka atau datang berlayar dari Indonesia, informasi itu masih kurang jelas aku terima.

Lewat tengah malam, kami kembali ke kediaman Don & Lorrien. Mereka sangat ramah, kami merasa sangat beruntung bertemu dengan mereka. Kabin mereka bersebelahan dengan rumah, dan kondisinya sangat-sangat bagus. Apalagi kami bisa menempatinya dengan gratis. :p (Catatan: pagi hari kami baru tahu bahwa kabin yang kami tempati juga bersebelahan dengan kuburan.. O_O)

Pagi-pagi kami sempatkan bermain dengan Michael dan Scott, serta beberapa anak-anak lokal yang sangat menggemaskan. Bermain bola basket dan mengambil beberapa foto mereka bersama kami. Siangnya kami berpamitan, dan melanjutkan perjalanan.

Rencananya, kami akan ke mencari pantai untuk mandi berenang di laut kemudian ke Noto-Jima Suizokukan Aquarium, tapi sebelumnya mampir ke taman untuk sekedar menggosok gigi dan membersihkan badan. Kami agak enggan untuk meminta ijin mandi di rumah Don, karena sepertinya kamar mandi mereka terletak di tempat yang cukup pribadi di rumah itu. Dan lagi, siang itu ada beberapa tamu yang berdatangan ke sana.


Selesai membersihkan badan, dan berfoto-foto di taman, perjalanan kami lanjutkan. Di Ushitsu Eki, kami bertemu dengan dua orang backpacker asal Australia, Tom dan Alicia. Mereka sudah beberapa minggu di sini, dan akan mengeksplore Jepang sampai 17 July dengan bermodalkan buku Lonely Planet. :)


Dari situ, kami melanjutkan obrolan, dan mereka menjadi teman perjalanan kami sampai Nanao. Ada kejadian lucu di tengah perjalanan. Saat itu Anamizu yang merupakan halte terdekat masih harus ditempuh selama empat puluh menit lagi, tapi Alicia kebelet pipis. Alicia, Tom dibantu Mei akhirnya membujuk-bujuk supir bus untuk berhenti dan mencari toilet terdekat. Dengan usaha mereka, akhirnya bus berhenti, dia kemudian malah sekalian membantu mencarikan tumpangan wc ke rumah penduduk di pinggir jalan. Bayangkan! Ini di Jepang, kejadian seperti ini jarang sekali terjadi. Hahahhaha..

Belum lagi ketika kami di Anamizu. Ketika kami berjalan menuju restoran untuk makan siang, Alicia menemukan snack dipinggir jalan yang sepertinya sudah beberapa hari beberapa disitu. Dia kemudian memungutnya dan memakannya. "Hmm, that's great. Do you wanna try?". Hahahha, ga ada jaim-jaimnya. Tentu kami tidak menolak, apalagi saat itu memang perut kami sedang sangat lapar. Dan kejadian lucu terakhir di Anamizu adalah kami berlima, Aku, Mei, Robbi, Alicia dan Tom berlari-lari mengejar kereta yang sebentar lagi berangkat. Well, pengalaman yang tak terlupakan.

Kami berpisah dengan Tom dan Alicia di Nanao Station. Kami berfoto bersama dan bersalaman. "See you in Australia", kata kami. "See you in Australia", balas mereka.


Kami melanjutkan perjalanan, mengksplore Nanao. Rencana ke Noto-Jima Suizokukan Aquarium kami batalkan, karena saat itu sudah pukul empat sore, sedangkan tempat itu tutup pada pukul lima. Belum lagi kami ternyata salah turun stasiun. Jika ingin ke Noto-Jima, kami seharusnya turun di Wakura Onsen.

Berharap mendapatkan pantai untuk mandi, ternyata tidak ada. Kami di beri sedikit panduan oleh penjaga stasiun yang bahasa inggris nya lumayan bagus. Kami diberitahu tempat-tempat yang layak kami kunjungi di kota itu. Tapi tidak ada pantai. Ada, tapi sangat jauh.



Kami akhirnya ke Nanao Fish Market, tapi tidak beli apa-apa, kami tidak punya cukup uang untuk membeli oleh-oleh :p. Selesai dari situ, kami ke belakang bangunan tersebut, ke Marine Park dan menghabiskan sore berfoto disitu. Taman yang sangat bagus untuk ngabuburit. :D






Selesai dari Marine Park, sebenarnya kami masih penasaran dengan Noto-Jima. Tapi karena stamina sudah benar-benar habis, kelelahan. Kami akhirnya hanya mampir ke Patricia, sebuah mall di depan Nanao Station. Istirahat, mengisi tenaga, makan snack dan looking around. :)

Kami pulang dengan kereta lokal pukul 18:52 dan sampai Kanazawa Eki sekitar jam setengah sembilan dengan kereta yang paling murah. Kami sudah memastikannya dengan menanyakannya beberapa kali kepada penjual tiket. Yasui, yasui.. (murah, murah) :p

*bagi yang ingin lihat foto lengkapnya, bisa ke album Facebook saya. Album "Corner of the World #2, Noto" (terbatas hanya untuk teman).

Labels: , , , , , , ,

Newer›  ‹Older


Black Rose

I'm Indra Gunawan
From : Siak Sri Indrapura, Indonesia
Live : Kanazawa, Japan

Now I am school at Kindai, Japan.

I don't believe in luck and I love to made some poetry. :)


Search

Chit Chat



Recent Comments


    hit counter html code
  • since 22 Feb '08

  • Page Rank Check

My Social Networks


    Indra EhM's Facebook profile


Blogged Blog Directory
XML

Adsvertise