Indra Gunawan

word of my mind, word of my heart.


Anak 'Jalanan' :)

Monday, February 21, 2011 at 10:54pm
My Today's Real Story ^^

*****

Aku berjalan keluar dari dalam halte. Langit terlihat sedikit mendung, mungkin itu yang membuat sengatan sinar matahari Jakarta tidak begitu terasa. Hawa masih sejuk, karena saat ini memang masih pagi. Aku melihat handphone-ku, hanya ingin memastikan 'sekarang jam berapa'.

Beberapa langkah kaki kemudian, aku melihat para tukang ojek menawarkan jasanya pada orang-orang yang keluar dari dalam halte bersamaku. Dan entah kenapa, aku sendiri tidak mereka tawari.  Aku senang sebenarnya, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan suaraku untuk menolaknya. Karena sekarang, aku memang sedang enggan untuk berbicara. Apalagi, aku memang tidak membutuhkan jasa mereka saat ini. Aku kan mau naik kereta api, bukan naik ojek. Pikirku..

Aku menelusuri teras Stasiun Gambir, bergegas menuju loket penjualan tiket. Tidak memerlukan waktu yg cukup lama untuk sampai di sana.

Ada dua bagian loket, satu sisi di bagian kanan, dan sisi lain di bagian kiri. Masing-masing memliki empat loket penjualan. Aku ikut mengantri pada loket di sebelah kanan. Dari empat, hanya dua loket yang melayani transaksi penjualan pagi itu. Kondisi loket tidak begitu ramai, hanya terlihat dua orang yang sedang berbicara dengan petugas penjual tiket.

Lima menit kemudian, tibalah giliranku. ”Ke Bandung jam berapa mbak?” tanyaku. ”Bandung sebelah sana mas, di sini untuk ke Cirebon”. Petugas itu menjawab sambil memberikan arah yang benar dimana aku seharusnya berada. ”Oh, makasih mbak”. Aku bergegas ke loket yang ditunjukkan petugas itu. Yang ternyata ada di bagian sisi yang lain.

Bandung 09:15, aku melihat papan jadwal pemberangkatan kereta api. Kurogoh saku celanaku, kulihat waktu di hapeku, dan angka yg tertera di sana adalah 09:11AMMasih ada waktu, masih ada 4 menit. Apalagi, tadi malam aku sudah memajukan waktu di hape-ku beberapa menit dari waktu yang tertera di komputer Niko.

”Pak, langsung naik ke atas saja ya. Langsung ke jalur…” Aku tidak bisa mendengarkan kelanjutan pembicaraan mereka. “OK mbak”, laki-laki yang mengantri di depanku menjawab dan langsung bergegas menuju pintu masuk.

“Bandung masih sempat?” aku bertanya pada petugas penjual tiket sambil mengulurkan uang. ”Masih, namanya?” wanita itu menjawab. ”Indra”, jawabku. ”Bisnis ya? Satu? Dua?”. ”Excecutive mbak, sendiri”. ”Langsung naik ya!” Dia menjawab sambil memberikan kembalian uang beserta tiket.

Aku sadar aku tidak punya waktu lama, aku berlari, menunjukkan tiket sebentar pada petugas penjaga pintu. Mencari escalator terdekat dengan sangat tergesa-gesa.

Aku memperhatikan tiketku.
No Kereta : 1, Seat Number : 10C
Aku mencari nomor jalur dimana kereta-ku berada, tapi tidak kutemukan di kertas itu.

Sampai di lantai dua, aku bingung mesti naik tangga di sebelah mana. Kereta ada di lantai tiga. Tapi aku tidak tahu tangga yang mana yang harus aku pilih. Sekilas aku melihat tangga di sebelah kanan, tanpa berfikir panjang aku berlari kesana, menaiki tangga itu dengan tergesa-gesa.

“Selamat pagi, kami beritahukan kepada seluruh penumpang. Kereta api Argo Parahyangan dengan tujuan Bandung diberangkatkan sekarang. Untuk semua penumpang, nikmati perjalanan anda dan semoga selamat sampai tujuan.” Kalimat itu selesai, tepat bersamaan dengan ketika aku sampai di lantai tiga. Di tempat aku berdiri, aku tidak melihat ada kereta di jalur itu.

Aku mengalihkan pandanganku. Aku melihat kereta berwarna putih ada di jalur seberang, aku yakin itulah kereta yang seharusnya aku naiki.

Aku megap-megap, panas, berpeluh, sambil memegang satu lembar tiket di tanganku. Seseorang menghampiriku. ”Kemana mas?”. ”Ke Bandung pak”. ”Wah, kereta ke Bandung yang itu” ia menjawab dengan menunjuk kereta yang aku lihat tadi. Aku hendak berbalik untuk turun melalui tangga yang aku naiki tadi, tapi kemudian lelaki itu berseru. ”Itu lewat sana aja, nggak sempat kalo turun lagi!” Dia menunjuk pintu kecil yang berada pada bagian belakang kereta.

Pintu itu terbuka, mungkin satu-satunya pintu yang terbuka pada sisi bagian itu. Sisi bagian yang menghadap rel. Jarak antar aku dengan pintu itu sekitar lima belas meter, tapi dipisahkan oleh satu buah rel. Untuk menuju kesana berarti aku harus melompat ke dalam jalur rel kereta api yang dalamnya sekitar satu meter dari tempat aku berdiri.

Tinggi kaki pintu kereta yang aku liat tadi, bila aku ukur dari permukaan rel yang diinjak oleh roda kereta tersebut, juga aku perkirakan  sekitar satu meter lebih sedikit. Aku menyimpulkan, itulah yang membuat para penumpang yang berada pada jalur yang benar, tidak akan kesulitan untuk masuk kedalam gerbong. Karena lantai dimana mereka berdiri sama tingginya dengan pintu gerbong.

Aku kemudian melakukan sedikit kalkulasi di kepalaku, memikirkan sedikit pertimbangan untuk memutuskan pilihan mana yang paling masuk akal dan sebaiknya aku ambil.

Tiga detik kemudian, ketika aku belum berhenti berfikir. Kakiku sudah melompat ke dalam jalur rel kereta api. Sebenarnya aku juga berfikir lumayan berbahaya ketika aku melakukan tindakan itu. Bagaimana bila tiba-tiba ada kereta api lain yang kemudian datang dan melaju pada jalur itu?

Tanpa aku sadari, aku merasa, sebenarnya aku telah mempertimbangkan juga hal tersebut. Ketika otakku bekerja, sebenarnya mataku juga bekerja pada saat yang bersamaan. Melihat arah kanan-kiri, melihat kalau-kalau ada kereta yang datang dalam waktu dekat. Tanpa aku sadari juga, diriku juga sudah memastikan bahwa tidakanku saat itu aman, untuk waktu yang sementara, setidaknya menurutku. Aku tidak tahu bagian mana dari tubuhku yang memikirkan itu, bukankah otakku sedang aku gunakan untuk memikirkan hal lain? Ah.. Yang penting aku sudah mendapatkan hasilnya.

Aku sedikit terseok-seok berlari di atas rel besi yang beralaskan kerikil. Ditambah dengan tas ransel di punggunggku yang aku perkirakan seberat enam sampai tujuh kilogram.

Aku sudah berada di depan pintu, bel keberangkatan telah dibunyikan. Itu berarti aku tidak memiliki waktu lebih dari lima detik lagi. Aku melihat pintu itu, ada tiga orang sedang duduk di depannya. Mungkin mereka adalah petugas kebersihan kereta api, atau petugas yang lain aku tidak tahu. Yang jelas pakaian hitam-orange yang mereka kenakan tidak terlalu rapi. Aku berfikir, untuk orang yang duduk di lantai kereta api hanya untuk bersatai seperti mereka, kelihatannya itu bukanlah sikap yang biasa dilakukan oleh pegawai kereta api yang berpangkat tinggi.

Orang yang berada paling dekat dengan pintu melihatku, mungkin heran dengan apa yang aku lakukan. Aku menatap matanya, aku ulurkan tanganku.

Orang itu mengerti maksudku, ia meraih tanganku, menarikku ke atas. Aku memaksakan kakiku naik memancal. Lelaki itu menarikku dengan lumayan bertenaga, sehingga aku tidak mengalami kesulitan untuk sampai di atas.

Lelaki itu masih bingung, begitu juga dengan kedua temannya. Aku menunjukkan tiketku kepadanya. ”Ini dimana ya pak?” Ia melihatnya sebentar kemudian menjawab ”Ooh, gerbong satu ada di depan. Jalan aja kearah sana, maju terus sampe ke paling depan”. ”Ke arah sana pak?” aku menoleh ke arah yang ditunjukkannya.

”Ya betul”, aku mendengarkan jawabannya tapi aku tidak memperhatikannya. Perhatianku beralih pada apa yang ada di depanku. Ternyata aku sedang berada di dapur. Aku melihat dua atau mungkin tiga orang koki sedang memasak, sepertinya sedang membuat nasi goreng, aku bisa menciumnya. Aku juga melihat asap mengepul dari situ. Di depannya, satu orang pria tidak berseragam dengan tubuh agak gemuk berdiri sambil melihat tiga koki tersebut melakukan pekerjaannya. Dia tidak memperhatikanku. Atau mungkin dia sudah sempat memperhatikanku tadi, tapi mungkin dia menganggap kedatanganku disana bukanlah hal yang menarik untuk diperhatikan, atau mungkin ada hal penting lain yang sedang dilakukannya, aku tidak tahu.

Aku kembali memperhatikan orang yang membantuku tadi. ”Ooh, terimaksih banyak ya pak” aku mengangguk dua kali, menurunkan kepalaku. Aku benar-benar berterimakasih kepadanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi bila ia tidak membantuku tadi. Dengan beban tas seberat itu, berarti aku harus melepaskankan tasku terlebih dahulu, melepaskan beberapa kaitan yang mengikat. Melemparkannya ke dalam. Dan dengan beban yang sudah berkurang itu, aku juga masih tidak tahu apakah aku bisa memanjat tinggi lantai kereta itu sendirian, setinggi itu, dan tepat waktu.

Aku menghadap ke depan, kereta sudah berjalan tanpa aku sadari sejak kapan. Mungkin ketika aku memperhatikan bapak-bapak gemuk yang ada di depanku tadi. Aku menoleh lagi ke belakang, mengucapkan terimakasih sekali lagi. Dan aku mulai melangkahkan kakiku ke depan.

”Permisi pak”, aku kembali menunguk sambil berkata kepada bapak-bapak gemuk tadi. Ia memang agak menghalangi jalan dengan tubuh besarnya. Ia memberikan ruang kepadaku, bergeser sedikit, tidak terlalu lebar tapi cukup bagiku untuk melintas.

Aku telah berada pada ujung gerbong dapur. Aku berada di depan pintu, ”BUKA, TEKAN TOMBOL. TUTUP OTOMATIS”. Aku mencari tombol yang dimaksud, aku menemukannya. Aku memencetnya, dan pintu terbuka.

Aku masuk kedalam gerbong baru, sepi sekali, seperti tidak ada penumpang. Di ujung depan hanya ada layar kecil bertuliskan “04” yang aku artikan sebagai gerbong nomor empat. Aku seharusnya berada pada gerbong satu, berarti masih ada tiga gerbong lagi yang harus aku lewati.

Aku melihat sesuatu bergerak di sebelah kiri, dibagian kiri dari lorong gerbong tersebut. Oh ternyata ada seseorang disitu. Ia tadinya diam, sedang duduk, pantas aku tak menyadarinya. Ia bereaksi karena kedatanganku, aku melihatnya. Ia mengenakan seragam yang pasti gampang aku kenali. Dia seorang polisi, aku baru tahu kalau di dalam sebuah kereta ada seorang polisi yang menjaga. Aku baru tahu saat itu.

Instingku berjalan sendiri, aku tidak berfikir ketika tanganku mengulurkan tiket yang masih aku pegang sedari tadi ke polisi itu. Dia melihatnya sesaat, kemudian mengangkat tangannya mengarah menuju kedepan. ”Kesana”. Aku memperhatikan tangannya. Sewaktu menunjukkan arah, telapak tangannya terbuka ke atas. Tidak dengan menggenggam keempat jarinya dan menjulurkan telunjuknya. Oh sopan sekali, kataku dalam hati.

Aku kembali mengucapkan terimakasih. Aku berjalan menuju pintu di ujung yang ditunjukkan polisi itu, mencari tombol pintu yg berluliskan “TOMBOL OTOMATIS”. Memencetnya. Pintu kembali berbuka, aku keluar dari gerbong keempat, berada di depan pintu gerbong ketiga. Aku kembali melakukan hal yang sama dan pintu kembali terbuka.

Aku masuk kedalam gerbong ketiga, suasana juga sangat sepi. Kali ini benar-benar tidak ada manusia yang berada di sana. Aku memastikannya. Aku kembali bergesa menuju pintu selanjutnya. Aku kembali mencari tombol otomatis itu, tapi kali ini aku tidak menemukannya. Sekitar empat detik aku terdiam, mencari tapi aku masih tak melihatnya. Tiba-tiba saja, polisi yang tadi, secara tidak aku sadari telah berada di belakangku. Ternyata ia mengikutiku, untuk mengantarkanku, atau mungkin takut aku berbuat macam-macam --karena kedatanganku dari arah yang tidak seharusnya--, aku juga tidak tahu. Ia kemudian membantuku memencet tombol otomatis yang mudah sekali ia ditemukan. Ya, mungkin tombol itu sepertinya sudah di situ sejak tadi. Tapi aku masih merasa, aku yakin tadi tidak ada tombol disitu, aku yakin. Ah mungkin karena aku sedang keadaan panik, tidak mungkin tombol itu berpindah tempat. Sekali lagi, aku mengucapkan terimakasih.

Aku masuk ke dalam gerbong nomor dua. Kali ini aku melihat banyak manusia di sini. Ruangan itu tidak penuh, tidak juga banyak, tapi lumayan bila dibandingkan dengan dua ruangan yang aku lewati sebelumnya.

Aku masih berjalan menuju pintu selanjutnya, polisi itu masih mengantarkanku.

Aku akhirnya sampai ke dalam gerbong yang aku tuju, menurut perhitunganku. Aku memandang ke ujung, melihat nomor gerbong pada layar kecil untuk memastikan perhitungan yang dilakukan oleh benakku. Ya, aku benar. Aku berada pada gerbong nomor satu.

Aku kembali melihat tiketku, mencari nomor tempat duduk yang tertera di sana. ”10C”, itu nomor yang aku dapatkan. Aku memandang ke atas jendela dimana biasanya nomor tempat duduk terpasang. Aku langsung melihat ke arah kanan, karena seingatku, nomor C berada bada barisan di sebelah kanan. Dugaanku benar, aku tinggal mencari tempat dudukku. Aku berjalan pelan-pelan, sambil memperhatikan setiap nomor yang berada dia atas jendela.

Aku menemukannya "10C-D". Aku menoleh ke belakang, kearah polisi yang mengikutiku. ”Benar disini pak?”. ”Ya”, jawabnya singkat. ”Oh, terimakasih banyak pak”.

Aku masuk ke dalam kursi tersebut. Kedua tempat duduk didepanku kosong, jadi aku memilih duduk di kursi D, di samping jendela. Tempat favoritku. Aku kembali menoleh kebelakang, melihat polisi yang menolongku, dan ternyata dia sudah berjalan kembali ke belakang.

Aku meletakkan ranselku di lantai, mengatur nafasku, dan mengatur dudukku agar memperoleh posisi yang nyaman. Aku menenangkan pikiranku.

Setelah semuanya tenang, aku mengucapkan Alhamdulillah dalam hati.
Aku kembali mengulangi peristiwa yang aku alami hari ini mulai pagi hari tadi hingga saat ini, di benakku.
Ketika aku masih di rumah Niko--aku menginap dirumahnya tadi malam--, mengingat ketika aku bercakap-cakap dengan ibunya, tantenya, berfoto bersamanya sebelum keberangkatannya ke Maluku. Sampai aku diantarkan olehnya ke ATM, kemudian ke halte busway “Gelanggang Remaja”.
Aku juga mengulangi persitiwa dimana aku bertanya berkali-kali kepada petugas busway. Aku bertanya, bagaimana caranya aku agar aku bisa sampai ke Stasiun Gambir. Hingga setelah tiga kali berganti bus, aku sampai di Halte Busway Gambir 1.
Mengingat kembali kejadian di loket, di tangga, di rel, di tolong naik ke atas kereta, di dapur, ketemu polisi, berjalan melewati gerbong-gerbong, sampai aku tiba di sini.

Sekali lg aku mengucapkan syukur, banyak sekali orang yang membantuku hari ini. Aku hanya bisa berdo’a, semoga mereka semua mendapatkan balasan yang baik, jauh belih baik dari apa yang mereka perbuat terhadapku hari ini.  Aku benar-benar sangat berterimakasih pada mereka. Aku benar-benar tidak bisa mengungkapkannya. Tuhan begitu baik kepadaku. Mengirim orang-orang baik untuk membantuku. :)

Aku selesai merenungi kejadian-ku. Aku merogoh laci tasku, mengambil iPod kesayanganku, memasang headset di telingaku. Menekan tombol ’play’, dan ter-alunlan lagu ini :

I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past, I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but I just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night

I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end
oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end
oh, oh, oh, oh, oh

#Way Back Into Love, Sabrina – I Love Accoustic
Dan lagu-lagu berikutnya mengalir menemaniku memandang hamparan rumah-rumah penduduk, sawah, gunung, dan pemandangan mempesona lainnya dari jendela kaca-ku..

Labels: , ,

0 Responses to “Anak 'Jalanan' :)”

Post a Comment

Leave your comment :D

Newer›  ‹Older


Black Rose

I'm Indra Gunawan
From : Siak Sri Indrapura, Indonesia
Live : Kanazawa, Japan

Now I am school at Kindai, Japan.

I don't believe in luck and I love to made some poetry. :)


Search

Chit Chat



Recent Comments


    hit counter html code
  • since 22 Feb '08

  • Page Rank Check

My Social Networks


    Indra EhM's Facebook profile


Blogged Blog Directory
XML

Adsvertise