Indra Gunawan

word of my mind, word of my heart.


Sabtu, 7 Juli 2012

05:45

Kring, kring.. kring, kringg.. 
Iphone ku berbunyi.

"Moshi-moshi" kataku.. "Badaiii, cok ko tengok hujan diluar. Angin nya kencang banget!!" kata suara penghuni Wakunami Shukusha D-10.

"Hah, ujan ya? Ya udah, ntar gw liat dulu hujan nya gmn. Ntar gw kabarin lagi!", dengan suara bangun tidur.
"Ok!", jawab Mei.

Handphone kumatikan, aku kembali tidur. Sayup-sayup kulihat ada hujan diluar, kelihatan dari jendela kamarku. Ada angin yang menyibakkan tirai jendela, "dingin", dalam benakku. Aku membetulkan posisi selimut futon. Aku kembali tidur.

--

06:30

Tidurku tidak tenang. Aku bangun, beringsut ke jendela kamar. Hujan, deras, anginnya juga kencang. Padi yang di tanam di sawah dibelakang kamarku tampak tertunduk tertiup angin. Kuraih den-den mushi putihku.

"Oiii, iya hujan, jadi gimana ini? Coba cek cuaca di Noto gmn?".
"Hujan jugaa, ini anginnya kenceng banget. Badai ini, 24 km/h".
"Ya udah lah, lanjut tidur aja kalo gitu yaa.."
"Iya, aku juga malas berangkat hujan-hujan gini"
"Klik", den-den mushi kumatikan. Kembali tidur.

--

11.00

"Ohayoo.."
"Ohayoo", jawab Robbi.
"Jadi gimana ini? Masa ga berangkat?", tanyaku.
"Mau berangkat? Jadwal bis jam berapa?", Robbi balik tanya.
....
*cut!! ceritanya kepanjangan, intinya kami jadi berangkat*

"Meii, jadi berangkat. Kita ke Eki jam 12 OK?!!", Robbi menelpon Mei.
--

12.00

"Ting-tong!!" suara bel apato berbunyi. Mei datang, "Ayoo, berangkatt"
"Bentar, mandi dulu", jawabku.
--

Jam satu siang di Kanazawa Eki.
Kami akhirnya berangkat bertiga, Aku, Mei dan Robbi. Well, sebenarnya kami tidak benar-benar tahu tujuan kami. Kami belum tahu bagaimana caranya ke Ushitsu, tempat digelarnya Abarei Matsuri Festival. Tapi ya sudah, pokoknya jalan aja.

Ketika lihat harga JR Exspress. Ternyata mahal, hampir 4000 yen sekali jalan sampai Anamizu, padahal tujuan kami ke Ushitsu. Berarti masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk sampai tujuan selain biaya kereta itu tadi. Uang dalam dompetku yang hanya sepuluh ribu (pinjaman dari Robbi) dan beberapa ribu (uang iuran untuk acara Tahrib Ramadhan) sepertinya sangat tidak sesuai dengan harga tersebut. Kami kemudian mencoba mencari transportasi lain.

Dengan modal browsing-browsing via handphone dan map hasil print yang dibawa Mei. Kami kemudian tanya-tanya ke penjaga penjual tiket ICa di Kanazawa Eki. Sepertinya memang kami terlalu banyak bertanya, karena kemudian sang petugas mengeluarkan kata-kata bahasa Inggris. "No, you need a ticket, but you can't buy here. Overthere!!" dia menunjuk ke arah seberang dengan nada yang agak tinggi. "Oooo. Haikk, arigato gozaimashita!!" kata kami bertiga sambil menjauh cekikikan. Dari tadi kami terbata-bata mencoba bertanya menggunakan bahasa Jepang, tapi ternyata orang yang kami tanya bisa berbahasa Inggris. Hahahhahaha..

Singkat kata, ternyata ada tiket penjualan bus di sebelah kanan Kanazawa Eki, di sebelah Forus Mall. Disana dijual semua tiket bus Hokusetsu Express Bus dan beberapa bus lain yang jalurnya menuju atau ke dan melewati Kanazawa.

Karena bus menuju Ushitsu hanya berangkat dua kali, yaitu jam delapan pagi dan jam empat sore, sedangkan saat itu jam satu siang, maka kami memilih untuk mencoba rute lain. Rute yang kami pilih saat itu adalah rute Ohtani Line, dan menurut rencana, kami akan turun di Yanagida, kemudian berharap ada bus lokal, atau kalau sampai mentok terpaksa mencoba minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Karena tujuan kami bukan halte akhir, kami diberitahu bahwa kami tidak perlu membeli tiket penuh. Kami cukup langsung naik, dan mengambil tiket yang biasanya disediakan di bus-bus standar Jepang (yang biasanya ada di dekat pintu masuk). Dengan begitu biaya yang harus kami bayar juga sesuai dengan jarak yang kami tuju, sesuai halte yang kami pilih untuk turun. Kami berangkat dengan bus pukul 14.20 dari Kanazawa Eki.

Perjalanan menggunakan bus tenyata sangat menyenangkan. Jalur yang kami lewati adalah jalur tol yang berada tepat di tepi laut. Sepanjang setengah perjalanan pertama kami disuguhi oleh pemandangan laut yang sangat indah. Selesai dengan laut, jalur bus berganti dengan hutan dan terowongan. Kemudian, pemandangan berganti dengan sawah-sawah dan rumah khas Jepang yang banyak kami jumpai pada lembah-lembah. Terpencil, namun indah.

Sampai di Yanagida, kami sedikit kehilangan arah. karena perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sambil berfikir. Kami mampir ke warung ramen yang kami jumpai. Masih dengan bahasa Jepang yang terbata-bata, kami meminta pelayan tersebut memberikan menu makanan tanpa babi. Dengan segala perjuangan, akhirnya mereka mengerti. Alhamdulillah. :)

Selesai makan ramen, kami mencari informasi ke penduduk daerah setempat bagaimana caranya kami bisa menuju Ushitsu. Kami mendapatkannya. Dengan waktu saat itu, kami hanya memiliki dua bus tersisa yang bisa kami naiki. Jika lewat, kami harus menunggu besok pagi lagi. Bus datang, dan selamatlah kami dari Yanagida.

Di Ushitsu, kami membersihkan diri sebentar di toilet umum disebelah Coop (drugs store) di depan Eki, sebelum mengeksplore kota tersebut. Tujuan pertama kami adalah mencari Hotel untuk tidur.

Setelah berkeliling-keliling kota, bertanya pada polisi setempat, kami tidak berhasil mendapatkan ruang untuk menginap untuk malam itu. Dalam kebingungan akan tidur dimana, kami mencoba mencari turis asing dan berharap dari mereka kami bisa memperoleh informasi penginapan.

Beruntung kami bertemu dengan keluarga missionaris dari Kanada, Don & Laurrine yang sedang membawa anak-anak mereka, Michael dan Scott ke ke festival itu. Kami dibantu untuk mendapatkan penginapan. Karena semua hotel penuh, mereka kemudian menawarkan untuk tinggal di kabin yang mereka miliki. Wow, tentu kami terima dengan senang hati tawaran tersebut, dan langsung kami cari lokasinya.


Malam hari, Abarei Matsuri Festival dimulai. Aku tidak begitu mengerti dengan arti festival tersebut dan asal muasalnya, tapi yang jelas, yang mereka lakukan adalah mengangkat beberapa gerobak raksasa yang disebut "kiriko" secara bersama-sama yang di atasnya diberikan tempat duduk untuk beberapa anak-anak yang kemudian diarak berkeliling kota menuju Kuil (atau disini disebut dengan Jinja). Beberapa anak tersebut memainkan alat musik tradisional. Orang-orang yang mengangkat kiriko rata-rata sudah mabuk. Gerobak raksasa itu tampaknya sangat berat, karena beberapa orang yang aku lihat berpartisipasi dalam acara itu, memar-memar pada bahunya. Padahal mereka sudah memakai alas bantal yang sangat tebal.

Penduduk lokal di Ushitsu sangat ramah, beberapa kali kami di ajak ngobrol walaupun mereka tahu kami kurang cakap berbahasa Jepang. Kami sempat pula di beri beberapa kaleng bir dan pocari sweat. Dari percakapan kami dengan mereka, ternyata kabarnya kadang ada pelaut Indonesia yang berada di daerah tersebut. Entah menjadi kru dari kapal mereka atau datang berlayar dari Indonesia, informasi itu masih kurang jelas aku terima.

Lewat tengah malam, kami kembali ke kediaman Don & Lorrien. Mereka sangat ramah, kami merasa sangat beruntung bertemu dengan mereka. Kabin mereka bersebelahan dengan rumah, dan kondisinya sangat-sangat bagus. Apalagi kami bisa menempatinya dengan gratis. :p (Catatan: pagi hari kami baru tahu bahwa kabin yang kami tempati juga bersebelahan dengan kuburan.. O_O)

Pagi-pagi kami sempatkan bermain dengan Michael dan Scott, serta beberapa anak-anak lokal yang sangat menggemaskan. Bermain bola basket dan mengambil beberapa foto mereka bersama kami. Siangnya kami berpamitan, dan melanjutkan perjalanan.

Rencananya, kami akan ke mencari pantai untuk mandi berenang di laut kemudian ke Noto-Jima Suizokukan Aquarium, tapi sebelumnya mampir ke taman untuk sekedar menggosok gigi dan membersihkan badan. Kami agak enggan untuk meminta ijin mandi di rumah Don, karena sepertinya kamar mandi mereka terletak di tempat yang cukup pribadi di rumah itu. Dan lagi, siang itu ada beberapa tamu yang berdatangan ke sana.


Selesai membersihkan badan, dan berfoto-foto di taman, perjalanan kami lanjutkan. Di Ushitsu Eki, kami bertemu dengan dua orang backpacker asal Australia, Tom dan Alicia. Mereka sudah beberapa minggu di sini, dan akan mengeksplore Jepang sampai 17 July dengan bermodalkan buku Lonely Planet. :)


Dari situ, kami melanjutkan obrolan, dan mereka menjadi teman perjalanan kami sampai Nanao. Ada kejadian lucu di tengah perjalanan. Saat itu Anamizu yang merupakan halte terdekat masih harus ditempuh selama empat puluh menit lagi, tapi Alicia kebelet pipis. Alicia, Tom dibantu Mei akhirnya membujuk-bujuk supir bus untuk berhenti dan mencari toilet terdekat. Dengan usaha mereka, akhirnya bus berhenti, dia kemudian malah sekalian membantu mencarikan tumpangan wc ke rumah penduduk di pinggir jalan. Bayangkan! Ini di Jepang, kejadian seperti ini jarang sekali terjadi. Hahahhaha..

Belum lagi ketika kami di Anamizu. Ketika kami berjalan menuju restoran untuk makan siang, Alicia menemukan snack dipinggir jalan yang sepertinya sudah beberapa hari beberapa disitu. Dia kemudian memungutnya dan memakannya. "Hmm, that's great. Do you wanna try?". Hahahha, ga ada jaim-jaimnya. Tentu kami tidak menolak, apalagi saat itu memang perut kami sedang sangat lapar. Dan kejadian lucu terakhir di Anamizu adalah kami berlima, Aku, Mei, Robbi, Alicia dan Tom berlari-lari mengejar kereta yang sebentar lagi berangkat. Well, pengalaman yang tak terlupakan.

Kami berpisah dengan Tom dan Alicia di Nanao Station. Kami berfoto bersama dan bersalaman. "See you in Australia", kata kami. "See you in Australia", balas mereka.


Kami melanjutkan perjalanan, mengksplore Nanao. Rencana ke Noto-Jima Suizokukan Aquarium kami batalkan, karena saat itu sudah pukul empat sore, sedangkan tempat itu tutup pada pukul lima. Belum lagi kami ternyata salah turun stasiun. Jika ingin ke Noto-Jima, kami seharusnya turun di Wakura Onsen.

Berharap mendapatkan pantai untuk mandi, ternyata tidak ada. Kami di beri sedikit panduan oleh penjaga stasiun yang bahasa inggris nya lumayan bagus. Kami diberitahu tempat-tempat yang layak kami kunjungi di kota itu. Tapi tidak ada pantai. Ada, tapi sangat jauh.



Kami akhirnya ke Nanao Fish Market, tapi tidak beli apa-apa, kami tidak punya cukup uang untuk membeli oleh-oleh :p. Selesai dari situ, kami ke belakang bangunan tersebut, ke Marine Park dan menghabiskan sore berfoto disitu. Taman yang sangat bagus untuk ngabuburit. :D






Selesai dari Marine Park, sebenarnya kami masih penasaran dengan Noto-Jima. Tapi karena stamina sudah benar-benar habis, kelelahan. Kami akhirnya hanya mampir ke Patricia, sebuah mall di depan Nanao Station. Istirahat, mengisi tenaga, makan snack dan looking around. :)

Kami pulang dengan kereta lokal pukul 18:52 dan sampai Kanazawa Eki sekitar jam setengah sembilan dengan kereta yang paling murah. Kami sudah memastikannya dengan menanyakannya beberapa kali kepada penjual tiket. Yasui, yasui.. (murah, murah) :p

*bagi yang ingin lihat foto lengkapnya, bisa ke album Facebook saya. Album "Corner of the World #2, Noto" (terbatas hanya untuk teman).

Labels: , , , , , , ,

0 Responses to “Endless Journey, Exhilarating Universe in Lonely Planet #2 - Experience Kanazawa, Abarei Matsuri Festival in Noto-cho”

Post a Comment

Leave your comment :D

Newer›  ‹Older


Black Rose

I'm Indra Gunawan
From : Siak Sri Indrapura, Indonesia
Live : Kanazawa, Japan

Now I am school at Kindai, Japan.

I don't believe in luck and I love to made some poetry. :)


Search

Chit Chat



Recent Comments


    hit counter html code
  • since 22 Feb '08

  • Page Rank Check

My Social Networks


    Indra EhM's Facebook profile


Blogged Blog Directory
XML

Adsvertise